Cadar: Antara Tradisi dan Syari`ah


Beberapa hari belakangan ini, tema tentang cadar kembali mencuat ke permukaaan, hal itu terjadi karena “kasus” Syaikhul Azhar Dr. Mohamed Sayyed Tantawi meminta salah seorang siswi membuka cadarnya saat kunjungan beliau ke salah satu sekolah di Kairo. Tidak ketinggalan, beberapa negara Islam atau yang mayoritas Muslim -di antaranya Indonesia- antusias merespon sikap Dr. Mohamed Sayyed Tantawi berkenaan dengan cadar tersebut.
Tema tentang cadar sedianya bukan tema baru dalam kajian hukum Islam. Silang pendapat tentang cadar sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Hal itu dikarenakan para pemegang otoritas agama -dalam hal ini para fuqaha- masih berbeda pendapat tentang batasan aurat bagi perempuan muslimah.
Dan untuk saat ini, ketika tema tentang cadar dikaitkan dengan sebuah komunitas atau organisasi tertentu, maka terlihat semakin kuat perdebatannya. Untuk mereka yang pro dengan cadar, seiring dengan terjadinya kasus Syaikhul Azhar Dr. Mohamed Sayyed Tantawi seolah memberi kesempatan kepada mereka untuk kembali menyuarakan pendapat mereka tentang cadar. Sebaliknya, untuk mereka yang menganggap cadar sebagai tradisi justru mendapat dukungan yang sangat signifikan dengan kejadian tersebut.

Pangkal Perbedaan
Pakaian perempuan muslim memiliki ciri khas tersendiri, karena agama telah mengatur tentang hal itu. Berbeda dengan batasan pakaian terhadap laki-laki yang lebih longgar, pakaian perempuan muslim cenderung lebih ketat aturannya. Beberapa Nash al Qur’an dan hadis menjelaskan tentang batasan pakaian bagi perempuan muslim. (di antara ayat tersebut, Surat Al Ahzab 59, Surat Al Nur 31 dan Hadis Nabi yang menjelaskan batasan pakaian perempuan kepada Asma binti Abu Bakar).
Meski demikian, Islam tidaklah terlalu banyak memberi aturan bagi pakaian perempuan muslim, kecuali dalam beberapa hal yang sangat mendasar. Di antaranya: tidak mengundang perhatian pria, tidak transparan, tidak ketat (membentuk lekukan tubuh), tidak menyerupai pakaian laki-laki dan tidak bertabaruj.
Tidak ada perbedaan pendapat ulama tentang wajibnya perempuan muslim untuk menutup aurat, dengan pakaian -apapun model dan namanya- selama masih mengikuti aturan nash sharih dan tetap dalam bingkai aturan yang disebutkan pada paragraph sebelumnya. Perbedaan atau perselisihan antar ulama tentang pakaian perempuan muslim berpangkal dari batasan aurat perempuan yang harus ditutupi. Namun demikian secara umum, pendapat ulama tersebut terbagi menjadi dua:
Pendapat pertama mengatakan bahwa seluruh badan wanita adalah aurat, sehingga semuanya harus ditutup rapat, kecuali kedua matanya. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa semua tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan.

Alasan Pendapat Pertama
Pertama, firman Allah SWT dalam surat al Nur ayat 31:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka” (QS. An Nur: 31)
Allah SWT. memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan.
Kedua, firman Allah SWT:
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31).
Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.
Ketiga: Dari sekian banyak ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh para ulama yang mewajibkan cadar, tidak satupun dari dalil tersebut yang secara sharih menjelaskan tentang kewajiban mengenakan cadar (niqab). Dalil-dalil yang dipakai para ulama yang pro dengan cadar lebih kepada proses pemahaman dengan kaidah mafhum muwafaqah. Contoh dari pemakaian mafhum mufaqah tersebut sebagai berikut:
Firman Allah,“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)
Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah?
Dan firman Allah, “Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)
Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan.
Masih cukup banyak ayat maupun hadis yang dimaksudkan –baca difahami-untuk mewajibkan cadar sebagai pakaian perempuan muslim, namun kembali lagi ditegaskan bahwa tidak ada dalil yang secara jelas memerintahkn untuk memakai cadar.

Alasan pendapat Kedua
Secara ringkas dalil-dalil para ulama yang tidak mewajibkan cadar bagi perempuan muslim antara lain:
Pertama: Firman Allah SWT. dalam Surat Al Nur Ayat 31: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nuur: 31)
Tentang زينة (perhiasan) yang biasa nampak ini, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas bahwa perhiasan yang dimaksud adalah, “Wajah dan telapak tangan.” Dan perkataan serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Shahabat Abdullah bin Umar. Berdasarkan penafsiran kedua shahabat ini, jelas bahwa wajah dan telapak tangan wanita boleh kelihatan, sehingga bukan merupakan aurat yang wajib ditutup.
Kedua: firman Allah SWT. dalam Surat Al Nur 31 (lanjutan kalimat dari ayat sebelumnya). “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)
Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Allah SWT. memerintahkan para wanita menutupkan khimar (kerudung) pada belahan-belahan baju (dada dan lehernya), maka ini merupakan nash menutupi aurat, leher dan dada. Dalam firman Allah ini juga terdapat nash bolehnya membuka wajah, tidak mungkin selain itu.”
Karena memang makna khimar (kerudung) adalah penutup kepala. Demikian diterangkan oleh para ulama, seperti tersebut dalam An Nihayah karya Imam Ibnul Atsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Al Hafizh Ibnu Katsir, Tafsir Fathu Al Qadir karya Asy Syaukani. (bisa dilihat lebih lanjut di kitab-kitab tafsir yang disebutkan).

Ketiga: beberapa hadits yang memerintahkan menahan pandangan dari wanita dan larangan mengulangi pandangan jika telah terlanjur memandang dengan tidak sengaja. Di antaranya:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا بُدَّ لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ إِنْ أَبَيْتُمْ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ وَاْلأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ
Dari Abu Said Al Khudri RA. dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah kamu duduk-duduk di jalan”. Maka para Sahabat berkata, “Kami tidak dapat meninggalkannya, karena merupakan tempat kami untuk bercakap-cakap.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika kalian enggan (meninggalkan duduk-duduk di jalan), maka berilah hak jalan.” Sahabat bertanya, “Apakah hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 1150, Muslim, Abu Dawud 4816).
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali RA,
يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ
“Wahai Ali, janganlah engkau turutkan pandangan (pertama) dengan pandangan (kedua), karena engkau berhak (yakni, tidak berdosa) pada pandangan (pertama), tetapi tidak berhak pada pandangan (kedua).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Jarir bin Abdullah berkata,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجْأَةِ فَقَالَ اصْرِفْ بَصَرَكَ
Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang pandangan tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau bersabda, “Palingkan pandanganmu.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi).
Al Imam Qadhi ‘Iyadh berkata, “Para ulama berkata, di sini terdapat argumen bahwa wanita tidak wajib menutupi wajahnya di jalan, tetapi hal itu adalah sunah yang disukai. Dan yang wajib bagi laki-laki ialah menahan pandangan dari wanita dalam segala keadaan, kecuali untuk tujuan yang syar’i (dibenarkan agama).
Keempat: Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ram, ia berkata,
أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ.
Bahwa Asma’ bintu Abi Bakar menemui Rasulullah SAW. dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah SAW. berpaling darinya dan berkata, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Dawud, Thabarani, Ibnu ‘Adi).
Hadis-hadis senada dengan hadis di atas banyak diriwayatkan oleh para perawi hadis. Namun demikian hadist-hadist tersebut tidak sampai pada derajat shahih yang bisa dijadikan alasan untuk menetapkan suatu hukum. Namun, kenyataan banyaknya riwayat yang serupa, maka satu hadis dengan yang lain bisa saling menguatkan untuk dijadikan alasan dan landasan hukum.
Kelima: Jabir bin Abdillah berkata,
شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ قَالَ فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ
“Aku menghadiri shalat hari ‘ied bersama Rasulullah SAW. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, dengan tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian beliau bersandar pada Bilal, memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan mendorong untuk menaati-Nya. Beliau menasihati dan mengingatkan orang banyak. Kemudian beliau berlalu sampai mendatangi para wanita, lalu beliau menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Hendaklah kamu bersedekah, karena mayoritas kamu adalah bahan bakar neraka Jahannam!” Maka berdirilah seorang wanita dari tengah-tengah mereka, yang pipinya merah kehitam-hitaman, lalu bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Karena kamu banyak mengeluh dan mengingkari (kebaikan) suami.” Maka para wanita itu mulai bersedekah dengan perhiasan mereka, yang berupa giwang dan cincin, mereka melemparkan pada kain Bilal.” (HSR Muslim).
Hadits ini jelas menunjukkan wajah wanita bukan aurat, yakni bolehnya wanita membuka wajah. Sebab jika tidak, pastilah Jabir tidak dapat menyebutkan bahwa wanita itu pipinya merah kehitam-hitaman.
Keenam: Hadis Riwayat Ibnu Abbas, beliau berkata,
أَرْدَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ … فَوَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنَّاسِ يُفْتِيهِمْ وَأَقْبَلَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ وَضِيئَةٌ تَسْتَفْتِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الْفَضْلِ فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهَا.
“Rasulullah SAW. memboncengkan Al Fadhl bin Abbas… kemudian beliau berhenti untuk memberi fatwa kepada orang banyak. Datanglah seorang wanita yang cantik dari suku Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah. Mulailah Al Fadhl melihat wanita tersebut, dan kecantikannya mengagumkannya. Nabi SAW. pun berpaling, tetapi Al Fadhl tetap melihatnya. Maka nabi ‘alaihi wa sallam memundurkan tangannya dan memegang dagu Al Fadhl, kemudian memalingkan wajah Al Fadhl dari melihatnya…” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Kisah ini juga diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib RA, dan dia menyebutkan bahwa permintaan fatwa itu terjadi di tempat penyembelihan kurban, setelah Rasulullah melemparkan jumrah, lalu dia menambahkan, “Maka Abbas berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, kenapa anda memalingkan leher anak pamanmu?” Beliau menjawab, “Aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, sehingga aku tidak merasa aman dari syaitan (menggoda) keduanya” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya. Syaikh Al Albani menyatakan, “Sanadnya bagus”)
Dengan ini berarti, bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah tahallul (selesai) dari ihram, sehingga wanita tersebut bukanlah muhrimah (wanita yang sedang berihram, dengan haji atau umrah).
Imam Ibnu Hazm berkata, “Seandainya wajah wanita merupakan aurat yang wajib ditutupi, tidaklah Nabi SAW. membenarkan wanita tersebut membuka wajahnya di hadapan orang banyak. Pastilah Nabi SAW. memerintahkan wanita itu untuk menurunkan (jilbabnya) dari atas (kepala untuk menutupi wajah). Dan seandainya wajahnya tertutup, tentulah Ibnu Abbas tidak mengetahui wanita itu cantik atau buruk.”
Ibnu Baththal RA. mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat perintah untuk menahan pandangan karena khawatir fitnah. Konsekuensinya jika aman dari fitnah, maka tidak terlarang. Hal itu dikuatkan bahwa Nabi SAW. tidak memalingkan wajah Al Fadhl sampai dia menajamkan pandangan, karena kekagumannya terhadap wanita tersebut, sehingga beliau khawatir fitnah menimpanya. Di dalam hadits ini juga terdapat (dalil) pertarungan watak dasar manusia terhadapnya serta kelemahan manusia dari kecenderungan dan kekaguman terhadap wanita. Juga terdapat (dalil) bahwa istri-istri kaum mukminin tidak wajib berhijab sebagaimana istri-istri Nabi SAW. Karena (kalau memang hal itu) wajib bagi seluruh wanita, pastilah Nabi SAW. memerintahkan kepada wanita dari suku Khats’am tersebut untuk menutupi (dirinya) dan tidak memalingkan wajah Al Fadhl. Di dalamnya juga terdapat (dalil) bahwa menutup wajah wanita tidak wajib, Para ulama bersepakat bahwa wanita boleh menampakkan wajahnya ketika shalat, walaupun dilihat oleh laki-laki asing.”
Dengan demikian, berdasarkan beberapa alasan di atas –dan masih banyak dalil yang lain- banyak ulama yang tidak mewajibkan cadar dan bahkan menganggap cadar sebagai tradisi saja dan tidak termasuk bagian dari Islam. Namun terlepas dari polemik tentang wajib dan tidaknya mengenakan cadar, penulis lebih sepakat dengan pendapat perkataan Syaikh Mutawalli Sya`rawi tentang cadar ini, beliau mengatakan, “Niqab (cadar) bukanlah sesuatu yang wajib tapi juga bukan sesuatu yang harus ditolak.”
Oleh: Athoillah Muslim, S.H.I. Dipl.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: