Aku sayang diriku


Terang terbit, gelap pergi

Oleh : Zulfadhli
“Jika aku bersabar atas kepayahan sedikit saja, maka kenikmatan yang panjang adalah sebuah keniscayaan”
Secarik kertas itu kutemukan sudah lusuh dan kumuh. Ketika ku baca isi nya ternyata lebih berharga dari ribuan lembar kertas yang masih baru dan tersusun rapi dalam jilidannya. Iya, karena ternyata isi kertas lusuh yang kutemukan itu, adalah cek bernilai ratusan ribu geneh.
Tidak dipungkiri bahwa, yang membuat indah sosok manusia itu adalah rambutnya. Tapi ada tidaknya rambut yang tumbuh di atas kepala manusia tidaklah menjamin sosok itu istimewa. Tidak juga hidungnya yang mancung seperti keturunan arab, apa lagi matanya nya biru laksana keturunan eropa. Tapi apa yang ada dalam kepala pemiliknya. Sedangkan wajah yang rupawan, dan pakaian yang menawan dan rumah yang gemerlapan, itu tidak lebih dari sekedar topeng.
Telah banyak orang yang tertipu dengan topeng, mereka menggunakan topeng dan membentuk pribadinya menjadi topeng yang mereka kenakan. Kemudian ketika ada masalah yang tergelar di depannya, tak ubahnya seperti anak kecil, mereka bersembunyi di balik topeng itu. Padahal kalau dia mau, dia bisa tetap memakai topeng itu, tapi dirinya lebih berharga dari pada topeng.
Kalau kita bawakan ini ke status kita yang notabene mahasiswa. Maka untuk sementara, itulah topeng kita. Tidak sedikit mahasiswa ketika diminta penjelasan tentang syariat Islam, kemudian berucap “Maaf saya masih mahasiswa, belum menjadi Ustadz atau Dosen” Ada apa dengan Ustadz? Apa iya, harus jadi Ustadz dulu baru bisa berbicara tentang Islam. Bukankah Syafi’i kecil, umur 9 tahun telah menyelesaikan hafalan Al qur’an dan mengerti dasar ilmu fiqih? Dan tidakkah Usamah bin Zaid, ketika berusia 18 tahun, diangkat Nabi sebagai komandan pasukan Islam ketika menyerbu Syam. Padahal diantara pasukan Islam masih terdapat sahabat-sahabat seperti Abu Bakar, Umar al- Khatab yang lebih tua darinya? Semua itu tidak karena jasad, tapi ruh. Ruh yang tersimpan dalam dada.
Azhar adalah tempat kita sekarang, ilmu adalah target yang bukan kedua. Dengan sedikit bersabar untuk mendengarkan muhadharah di kuliah kita sudah sedikit menyayangi diri kita. Karena mustahil pelajaran yang tidak tertulis dengan bahasa ibu kita ini, akan kita telan dalam beberapa hari saja. Marilah berupaya semenjak detik tulisan ini dibaca, untuk kembali memurnikan niat. Dan katakan kepada mereka yang bertanya. “Apakah hari ini kamu masuk kuliah?” “Iya, kenapa tidak, karena untuk itulah saya datang ke tanah ini.
Sebuah kalimat bijak sering menjadi inspirasi untuk berbuat, maka dengarkan pekik seorang panglima pembebas andalus, Thariq bin Ziyad. “wa’lamuu..!! annakum in shobartum ‘alal asyaqqi qoliilan, istamta’tum bil arfahi alladzi thowiilan” Untuk meraih impian, kita tidak harus mengorbankan banyak. Cukup lebihkan sedikit dari apa yang telah kita korbankan sebelumnya. Aku berkorban karena aku sayang pada diriku.
http://www.syahidnaa.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: