Xenotransplantation antara Babi dan Manusia Menurut Perspektif Islam


Oleh: Nurman Bin Abdulbakri, Lc.

Xenotransplantation

1.Pendahuluan
Di masa modern sekarang agama adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa dilupakan, bahkan tidak sesaat pun manusia mampu meninggalkan agamanya. Agama adalah pandangan hidup dan praktik penuntun hidup dan kehidupan, sejak kelahiran sampai kematian dan di seluruh aspek kehidupan. Agama selalu memberikan bimbingan, demi menuju hidup bahagia dunia dan akhirat. Dalam Al-Muwâfaqat, Al-Imam Asy-Syatibi telah menyusun pembahasan tentang Tujuan Agama (Maqashid Asy-Syariah), “tujuan agama terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu, tujuan yang berkaitan dengan agama dan tujuan yang berkaitan dengan mukallaf. Dari perspektif agama, tujuan tersebut terwujud dalam bentuk adanya undang-undang yang diletakkan sebagai dasar dan pedoman hidup. Dengan kata lain, pedoman tersebut sekaligus sebagai beban (taklif) yang wajib ditunaikan oleh mukallaf.

Xenotransplantation ll

Apapun yang dibebankan Allah ta’ala adalah demi kemashlahatan hamba-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Quran dan Al-Hadits yang kemudian diramu dengan beragam hasil ijtihad para ulama, bukanlah teks yang mati. Dengan kata lain, ia merupakan teks hidup yang akan selalu relevan menjadi aturan dan undang-undang bagi keberlangsungan hidup manusia di dunia untuk investasi kehidupan akhirat kelak. Dalam masalah kemashlahatan, para Ahlul Kalam berbeda pendapat. Menurut Imam Ar-razi, hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala bukan semata-mata karena demi aktifitas umat manusia, melainkan ada hikmahnya yang dapat diketahui atau pun tidak. Lain halnya dengan Mu’tazilah, menurut mereka, semua yang ditetapkan oleh Allah ta’ala kembali kepada kemashlahatan hamba dalam kehidupannya di dunia untuk bekal kehidupan akhirat kelak. Pendapat inilah yang kemudian dipegang oleh mayoritas ulama dekade akhir. Secara umum bisa dikatakan bahwa alasan (‘illah) adanya ketetapan Allah ta’ala adalah untuk mengatur aktifitas manusia agar selalu dalam koridor yang digariskan Islam. Begitu juga dalam pendelegasian rasul kepada umat manusia. Sebagaiman ayat berikut: ))(( “Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan…”)) (al-baqarah: 213) Ayat di atas menunjukkan bahwa semua ketetapan Allah Swt atas manusia pasti mempunyai implikasi positif yang berpulang kepada mukallaf. Oleh karenanya, tidak salah kalau dikatakan bahwa al-Quran merupakan way of life. Al-Qur’an berisi petunjuk-petunjuk global yang mengatur aktifitas manusia. Al-Quran diterjemahkan oleh As-Sunnah yang kemudian dielaborasi dengan ijtihad para ulama. Bentuk Dan Jenis Pengobatan Salah satu sisi kehidupan manusia yang juga diatur oleh Islam adalah di saat sakit, untuk melakukan proses pengobatan dan mencari kesembuhan, agama pun memberikan bimbingan terhadap hal tersebut. Pengobatan dapat dibagi menjadi dua yaitu pengobatan yang dihalalkan dan pengobatan yang diharamkan. Pengobatan yang dihalalkan adalah segala macam pengobatan yang tidak bertentangan dengan Syariah, seperti pengobatan di bawah ini:

  1. Pengobatan Nabawi, yang secara jelas teksnya disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits, seperti pengobatan dengan madu, habbah sauda’ (jinten hitam ) air zamzam, ruqyah dengan membacakan alqur’an bagi orang yang sakit dan lainnya.

b. Pengobatan Medis, yang secara ilmiyah dapat dipertanggung-jawabkan seperti suntikan, imunisasi, transplantasi dan lainnya.

c. Pengobatan Tradisional, Seperti dengan jamu (dengan bahan yang halal dan tidak merusak), pijat refleksi, dan obat-obatan tradisional yang lainnya (dengan bahan yang halal dan tidak merusak). Sedangkan pengobatan yang diharamkan adalah pengobatan yang menyimpang dari Syariah, seperti pengobatan dengan sesuatu yang haram, bernajis, menggunakan sihir, dukun, meminta bantuan jin. Pernyataan bahwa jin itu muslim, kita tidak dapat mempercayainya seratus persen. Karena jin banyak dustanya dan kita tidak mungkin bisa membuktikan bahwa dia jin itu muslim atau tidak, karena alamnya sudah berbeda. Dan selanjutnya bahwa Allah ta’ala mencela orang yang datang meminta tolong pada jin. (surat Al-Jin: 6).

2. Transplantasi Organ Sebagai Pengobatan Medis

Teknologi kedokteran modern mampu melakukan transplantasi organ. Secara faktual, hal ini sangat membantu pihak-pihak yang menderita sakit untuk bisa sembuh kembali dengan penggantian organnya yang sakit diganti dengan organ manusia lain yang sehat atau organ binatang sehat yang sesuai. Pengertian Transplantasi Transplantasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggris; transplant, yang berarti move from one place to another (bergerak dari satu tempat ke tempat lain). Adapun transplantasi secara terminologi ilmu kedokteran ialah: “Pemindahan jaringan atau organ dari tempat satu (manusia atau hewan) ke tempat lain (manusia atau hewan), seperti pemindahan mata, tangan, ginjal, jantung dan sebagainya, yang dilakukan pada saat hidup atau mati”.
Yang dimaksud jaringan di sini ialah kumpulan sel-sel (bagian terkecil dari individu) yang sama mempunyai fungsi tertentu. Yang dimaksud dengan organ ialah kumpulan jaringan yang mempunyai fungsi berbeda sehingga merupakan satu kesatuan yang mempunyai fungsi tertentu, seperti jantung, hati dan lainnya. Pembangian Transplantasi Ditinjau dari pengertian di atas, kita bisa membagi transplantasi itu pada dua bagian:
1. Transplantasi Jaringan, seperti pencangkokan cornea mata.
2. Transplantasi Organ, seperti pencangkokan ginjal, jantung dan sebagainya.
Menurut hubungan genetik antara donor (pemberi jaringan atau organ yang ditransplantasikan) dan recipient (orang yang menerima pindahan jaringan atau organ) ada 3 macam pencangkokan:

  1. Autotransplantasi, yaitu transplantasi yang dilakukan antara donor dan recipient satu individu, seperti seorang yang pipinya dioperasi, untuk memulihkan betuk, diambilkan daging dari bagian badannya yang lain dalam badannya sendiri.
  2. Homotransplantasi, yaitu transplantasi yang terjadi antara donor dan recipient individu yang sama jenisnya, bukan jenis kelamin, tetapi jenis manusia dengan manusia.
    Pada homotransplantasi ini bisa terjadi donor dan recipient dua individu yang masih hidup, bisa juga terjadi antara donor yang telah meninggal dunia yang disebut cadaver donor, sedang recipient masih hidup.
  3. Heterotransplantasi, yaitu transplantasi yang dilakukan antara donor dan recipient dua individu yang berlainan jenis, seperti transplantasi yang terjadi antara donor adalah hewan sedangkan recipient adalah manusia.
    Pada autotransplantasi hampir selalu tidak pernah mendatangkan reaksi penolakan, sehingga jaringan atau orang yang ditransplantasikan hampir selalu dapat dipertahankan oleh recipient dalam jangka waktu yang cukup lama.

Sedangkan pada Homotransplantasi, diketahui 3 kemungkinan golongan:
1. Apabila recipient dan donor adalah saudara kembar yang berasal dari satu sel telur, maka transplantasi hampir selalu tidak menyebabkan reaksi penolakan. Pada golongan ini hasil transplantasinya serupa dengan hasil transplantasi pada autotransplantasi.
2. Apabila recipient dan donor adalah saudara kandung atau salah satu orang tuanya satu keturunan, maka reaksi penolakan pada golongan ini lebih besar dari pada golongan pertama, tetapi masih lebih kecil daripada golongan ke tiga.
3. Apabila recipient dan donor adalah dua orang yang tidak ada hubungan saudara, maka kemungkinan besar transplantasi selalu menyebabkan reaksi penolakan. Pada waktu sekarang homotransplantasi paling sering dikerjakan dalam klinik, terlebih-Iebih dengan menggunakan cadaver donor, karena dua hal:

Kebutuhan organ dengan mudah dapat dicukupi, karena donor tidak sulit dicari.·
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, terutama· dalam bidang immunologi, maka reaksi penolakan dapat ditekan seminimal mungkin.
Adapun pada heterotransplantasi hampir selalu menyebabkan timbulnya reaksi penolakan yang sangat hebat dan sukar sekali diatasi. Oleh karena itu penggunaannya masih terbatas pada binatang percobaan. Pernah diberitakan adanya percobaan mentransplantasikan kulit babi yang sudah diiyophilisasi untuk menutup luka bakar pada manusia. Sekarang hampir semua organ dapat ditransplantasikan, sekalipun sebagian masih menggunakan binatang percobaan.

3. Hakikat Babi

Seluruh tubuh babi memiliki kegunaan yang beraneka ragam, di antaranya:

  1. Lemak

Lemak dan beberapa produk variannya berperan untuk:

– Lemak dan gliserin: softdrink, bahan kosmetik (facial, hand and body lotion), sabun dan lainnya.
-Emulsifier:Lesitin,E471dansebagainya.
-Lard (lemak babi): pengempuk dan pelezat roti& coklat

-Minyak: penyedap masakan.

-Bahan starter vetsin: penyedap masakan.
2.Bulu

Bulu berguna sebagai bahan kuas (bristle), seperti pada kuas roti, kuas cat tembok dan kuas lukis. Biro Pusat Statistik pada tahun 2002 melaporkan bahwa pada periode Januari hingga Juni 2001, Indonesia mengimpor boar bristle dan pig/boar hair sejumlah 282,983 ton (senilai 1.713.309 US $).
3.Daging
Daging babi merupakan sumber protein hewani yang murah. Harganya jelas lebih murah dari daging sapi, dan mudah diperoleh di pasaran. Sifat dagingnya sendiri selain empuk, seratnya halus. Penggunaannya bisa sebagai campuran bakso, siomay, bakmi goreng, dan sebagainya.

4.Tulang
– Industri pariwisata: patung, ukiran, souvenir dan lainnya.

– Industri makanan/minuman: arang tulang sebagai filter penyaring air mineral, karena pori-pori tulangnya bagus.

– Indutri obat: gelatin dari tulang sebagai bahan soft capsule.

– Industri pertukangan: bahan lem dan sebagainya.

5. Organ

Dalam Beberapa organ dalam yang terpakai dan fungsinya:

-Transplantasi organ: ginjal, hati, jantung.

-Plasenta: kosmetika (facial, hand and body lotion), sabun dan lainnya.

-Enzim pencernaan: amilasi, lipase, tripsin, pankreatin, pepsin dan sebagainya.
6. Kulit Berguna dalam industri kulit (leather handicrafts) seperti tas, sepatu, dompet dan lainnya. 7. Kotoran Kotoran babi berguna sebagai pupuk tanaman. Di Jepang, kotoran itu digunakan sebagai pupuk tanaman apel, karena dapat menciptakan warna merah bagus pada kulit apel.

Ilmu kedokteran banyak mengalami perkembangan yang cukup pesat. Tidak sedikit metode-metode kesehatan yang baru ditemukan untuk penyembuhan manusia menjadikan segalanya terdapat solusi praktis. Dengan adanya data dari United Network for Organ Sharing (UNOS) yang menunjukan bahwa pada tahun 1999 hanya 29,7% dari total pasien yang membutuhkan transplantasi organ dapat terpenuhi. Jumlah pasien akan meningkat dengan pertambahan jumlah penduduk maupun karena beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan manusia. Jadi, masih diperlukan puluhan ribu donor organ. Orang pun telah menempuh berbagai macam cara, misalnya membeli organ dari napi. Namun hal ini telah ditentang keras oleh aktivis HAM untuk segera dihentikan. Dunia kedokteran manusia tidak dapat hanya mengharapkan donor dari orang karena tidak akan pernah mencukupi sedang kebutuhan akan organ sudah cukup mendesak. Para ilmuwan berusaha keras untuk mencari alternatif. Monyet dan babi menjadi pilihan. Dari berbagai percobaan dan penelitian yang terus menerus (data empiris), tampaknya babi lebih menjanjikan daripada monyet karena babi mempunyai banyak kesamaan dengan manusia. Sejak tahun 1999 di Amerika Serikat para ahli medis meneliti potensi keberhasilan transplantasi organ babi kepada manusia. Proses transplantasi organ babi ke manusia diilhami dari tinjauan bentuk dan ukurannya yang mirip dengan organ manusia. Di mana dalam hal ini organ babi juga dapat digunakan dalam kondisi bebas patogen dan organ babi dipercaya tidak menginfeksi manusia karena membawa patogen yang berbahaya bagi manusia dengan jumlah yang rendah sehingga aman bagi manusia. Selain itu, organ babi dapat dimanipulasi untuk mengurangi resiko penolakan. Dalam proses transplantasi organ. Sering tubuh recipient (penerima organ) menolak organ transplantasi, dalam hal ini dapat membahayakan tubuh recipient. Dalam aspek geo-ekosistem, pemakaian hewan babi dipilih karena hewan babi merupakan hewan yang dapat bereproduksi secara cepat. Sehingga secara populasi, hewan ini mudah dibudidayakan. Transplantasi organ babi ini pun masih mengalami banyak kendala yang disebabkan adanya senyawa dalam permukaan sel babi yang tertolak oleh tubuh manusia di mana tubuh manusia memang memiliki sistem penolakan (antibodi) terhadap senyawa itu (HAR system). Belum lama ini tim peneliti dari Nextran (perusahaan bioteknologi) membuat babi transgenik yang mampu mengekspresikan protein manusia. Protein tesebut sangat berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh dalam organ babi, organ itu dapat diterima oleh sistem pertahanan tubuh manusia sehingga pencangkokan organ babi ke tubuh manusia dapat dilakukan.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi HAR dipermudah lagi dengan munculnya teknologi kloning. Dengan teknologi ini, sel babi dapat direkayasa secara genetik sesuai keinginan kita dan sel yang sudah direkayasa ditumbuh kembangkan menjadi babi. Babi hasil kloning semacam ini tentu saja merupakan babi transgenik yaitu babi yang membawa gen asing (misalnya gen manusia) di dalam seluruh selnya. Ini jelas berbeda dengan teknologi pembuatan babi transgenik konvensional yang melalui mikroinjeksi gen ke dalam sel telur babi. Para ilmuwan Korea Selatan sukses melakukan rekayasa genetik terhadap seekor babi dengan menghilangkan gen alpha-gal pada 3 April 2008 lalu. Tanpa gen tersebut, risiko penolakan jaringan dalam proses cangkok organ bisa diminimalkan. Lim Gio-Bin, ilmuwan yang menjadi ketua tim riset, mengklaim sudah berhasil mengkloning spesies babi istimewa tersebut. “Kami menggunakan sel induk babi yang berukuran lebih kecil dari normal untuk menciptakan babi-babi kecil yang sudah direkayasa secara genetika”. Dalam riset tersebut, Lim melibatkan ilmuwan dari empat universitas dan dua lembaga riset. Mereka berhasil mengkloning empat babi kecil dari sekitar seratus babi yang menjadi induk. Tapi, hanya satu babi kecil jantan bernama ‘Xeno’ yang mampu bertahan hidup. Berpijak pada keberhasilan itu, Lim dan timnya berusaha keras mengkloning jenis babi sama dengan jenis kelamin betina. Dengan demikian, selanjutnya, mereka bisa mengembangbiakkan babi minus gen alpha-gal lewat proses regenerasi alami. Dalam proses kloning, Lim menyatakan mengadoptasi teknologi yang pernah digunakan ilmuwan Amerika Serikat pada tahun 2002. Saat itu tim ilmuwan Negeri Paman Sam juga mengkloning babi. Tapi, Korea Selatan menambahkan satu tahap baru, yakni metode rekayasa genetik untuk menghapus gen penghasil gula pada generasi baru babi yang dikloning. Untuk menghapus gen tersebut, Lim dan timnya harus bekerja ekstrakeras. Sebab, organisme baru pasti mewarisi bakat genetik dari sang induk. Bisa dari ayah atau ibunya, atau dua-duanya. Padahal, untuk menciptakan generasi babi baru tanpa gen alpha-gal, potensi bakat genetik dari induk harus benar-benar dihilangkan. Sebelumnya, tidak pernah ada ilmuwan yang sukses melakukannya. Riset ini menjadikan Korea Selatan negara kedua setelah Amerika Serikat yang sukses mengkloning babi. Tapi, hasil Korea Selatan jauh lebih baik. Dengan hilangnya gen alpha-gal yang berfungsi memproduksi molekul gula pada organ babi itu, tiap bagian tubuh babi bisa dicangkokkan pada spesies lain tanpa penolakan, termasuk manusia.

Selama ini, immuno-rejection menjadi kendala pencangkokan organ. Organ tubuh babi, kata Lim, diyakini sebagai donor cangkok yang paling sesuai. Sayang, organ babi mengandung molekul gula yang jika dicangkokkan pada manusia akan langsung ditolak. Antibodi manusia secara otomatis akan menghancurkan organ babi tersebut. Rencananya, uji cangkok pertama organ babi pada manusia dilakukan pada 2012. Pengharaman Babi Babi adalah hewan mamalia berkaki empat, di dunia sudah menjadi komoditi usaha para peternak untuk dibudidayakan. Kehadirannya sering diiringi dengan kontroversi. Aktualisasi babi terbentur dengan norma religi yang melarang konsumsi daging babi. Bahkan dalam aspek dunia kesehatan sendiri, eksistensi babi juga tidak jarang mengundang pro dan kontra. Di balik ancaman sekian banyak parasit pada hewan babi yang mengancam kesehatan yang mengonsumsinya, kerugian yang terdapat dari proses transplantasi organ babi di antaranya potensi resiko virus babi dapat menular ke tubuh manusia yang dapat menimbulkan penyakit bagi manusia. Dalam suatu kasus, babi yang memiliki PERV (Porcine Endogenous Retrovirus) yang dapat menjangkit di tubuh manusia. Selain itu, babi hanya mengeluarkan 2% dari seluruh kandungan asam urea yang dimilikinya, sedangkan 98% lainnya tersimpan dalam tubuhnya. Dalam hal ini perlu diketahui, bahwasanya asam urea merupakan salah satu zat yang beracun bagi tubuh manusia. Larangan memakan daging babi sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya Allah subhanahu wata’ala berkata: ))((“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al-baqarah: 173) Dan Allah ta’ala berkata:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah*394+, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,..”. (al-maidah: 3) Dan juga firman Allah: ))(( “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah…”. (an-Nahl: 115) Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr dan hasil penjualannya dan mengharamkan bangkai dan hasil penjualannya serta mengharamkan babi dan hasil penjualannya.” (riwayat Abu Daud) Demikian jelaslah haramnya daging babi dan seluruh anggota tubuhnya untuk dimakan, dan dimanfaatkan dengan ‘illah najis dan haram, Ibnu Hazm menandaskan hukum ini merupakan konsesus ummat (Al-Muhalla: 7/390-430). Hikmah Pengharaman Babi Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa sebab pengharaman babi adalah karena najisnya berdasarkan firman-Nya:

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.” (Al-An’am: 145) Sedangkan hikmah pengharamannya dijelaskan Syaikh Shalih Al Fauzan dalam pernyataan beliau: “Ada yang diharamkan karena makanannya yang jelek seperti babi, karena dapat mewarisi sifat-sifat yang hina dan jelek, karena dia adalah hewan makan makanan kotor dan kotoran tanpa kecuali.” (Kitab Al Ath’imah: 40) Penyakit Yang Terjangkit dari Babi Daniel S. Shapiro, M.D., Pengarah Clinical Microbiology Laboratories, Boston Medical Center, Massachusetts dan juga merupakan Asisten Profesor Perobatan di Pathology and Laboratory Medicine, Boston University School of Medicine, Massachusetts, merumuskan terdapat lebih daripada 25 penyakit yang dapat dijangkiti dari babi. Di antaranya sebagai berikut: Anthrax Ascaris suum Botulism Brucella suis Cryptosporidiosis Entamoeba polecki Erysipelothrix shusiopathiae Flavobacterium group IIb-like bacteria Influenza Leptospirosis Pasteurella aerogenes Pasteurella multocida Pigbel Rabies Salmonella cholerae-suis Salmonellosis Sarcosporidiosis Scabies Streptococcus dysgalactiae (group L) Streptococcus milleri Streptococcus suis type 2 (group R) Swine vesicular disease Taenia solium Trichinella spiralis Yersinia enterocolitica Yersinia pseudotuberculosis

Virus-Virus Baru ditemukan dari Babi Jangkitan kuman virus influenza pada tahun 1918 telah membunuh lebih kurang 20 juta manusia di seluruh dunia. Ada yang menganggarkan mangsa-mangsanya yang sebenarnya berjumlah 40 juta orang. Mengikut beberapa kajian, kuman virus yang menyebabkan epidemik ini datang dari babi-babi di Amerika. Ia menjangkiti tentera-tentera Amerika pada Perang Dunia I dan tentera-tentera ini kemudian membawanya dan menyebabkan virus berjangkit di negara-negara lain. Setelah dilakukan penelitian puncak wabahnya berasal dari babi.

Pada bulan November, 1997, Dr. Robin Weiss dari Chester Beatty Laboratory, London mengatakan wujud virus PERV di dalam babi. Penemuan ini menyebabkan Kerajaan British mengharamkan semua aktivitas pembedahan pemindahan alat / organ dari babi kepada manusia. Pada bulan Agustus 1997, pakar-pakar sains dari Australia menemukan satu lagi virus baru yang menjangkiti babi sebelum menyerang manusia. Ia amat berbahaya kepada manusia dan belum pernah ditemui sebelum ini dan dikenali sebagai virus menangle dari kumpulan paramyxovirus. Secara umumnya, sejak tahun 1997, ahli-ahli sains menemui beberapa kuman virus keluaran babi yang dapat terjangkit pada manusia. Kuman-kuman ini belum pernah ditemui sebelum ini, antaranya ialah,: Porcine Torovirus. Porcine Rotavirus (Variant 4F). PRRS (Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome Virus). H3N2 Swine Flu Virus.

Parasit Pada Babi Cacing Taenia Solium

Hadir dalam bentuk larva yang bergelembung pada daging babi ataupun kerap kali hadir juga dalam bentuk butiran-butiran telur pada usus babi. Jika daging babi telah termakan tanpa melalui proses masak dengan baik, maka dinding-dinding gelembung ini akan dicerna oleh perut manusia. Proses pencernaan tersebut akan menghalangi perkembangan tubuh dan akan membentuk cacing pita yang panjangnya bisa mencapai lebih dari 3 meter. Cacing ini akan melekat pada dinding usus dengan cara menempelkan kepalanya lalu menyerap unsur-unsur makanan yang ada di lambung. Jika dibiarkan, hal tersebut dapat menyebabkan seseorang kekurangan darah (anemia) dan gangguan pencernaan, karena cacing ini bisa mengeluarkan racun. Besar kemungkinan, larva yang telah bercokol dalam usus manusia ini kemudian akan memasuki saluran peredaran darah dan terus menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak, hati, saraf tulang belakang, dan paru-paru. Dalam kondisi ini dapat menyebabkan penyakit yang mematikan. Cacing Trichinella Spiralis

Parasit ini hadir pada babi dalam bentuk gelembung-gelembung lembut. Jika seseorang mengkonsumsi daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka gelembung-gelembung -yang mengandung larva cacing ini akan memilih tinggal di otot dan daging manusia, sekat antara paru-paru dan jantung, dan di daerah-daerah lain di tubuh. Implikasi serangan cacing ini pada otot dapat menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan sulit melakukan aktivitas.

Cacing Schistosoma Japonicus

Hewan babi adalah satu-satunya binatang yang mengandung cacing jenis ini. Parasit ini menyerang manusia apabila terjadi sentuhan ataupun dengan proses mencuci tangan dengan air yang mengandung larva cacing yang berasal dari kotoran babi. Dengan menyelinap ke dalam darah, paru-paru dan hati, cacing ini berkembang dengan sangat cepat. Diperkirakan dalam sehari dapat mencapai lebih dari 20.000 telur. Cacing ini juga sangat berpotensi menyerang bagian otak dan saraf tulang belakang yang berakibat pada kelumpuhan dan kematian. Fasciolopsis Buski

Hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Jika terjadi proses percampuran antara didalam usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam bentuk tertentu yang bersifat cair, dimana dengan bentuk tersebut, semakin memudahkan mereka untuk berpindah pada manusia. Parasit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, diare, dan pembengkakan di sekujur tubuh, serta bisa menyebabkan kematian. Cacing Ascaris

Panjang cacing ini adalah sekitar 25 cm. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru, radang tenggorokan dan penyumbatan lambung. Cacing ini tidak bisa dibasmi di dalam tubuh, kecuali dengan cara operasi. Cacing Ankylostoma
Cacing ini bisa menyebabkan diare dan pendarahan di tinja, yang bisa menyebabkan terjadinya kekurangan darah, kekurangan protein dalam tubuh, pembengkakan tubuh, dan menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan mental, lemah jantung dan akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Clonorchis Sinensis

Jenis parasit ini tinggal pada air empedu hati babi, yang merupakan sumber utama penularan penyakit pada manusia. Virus ini bisa menyebabkan pembengkakan hati manusia dan penyakit kuning yang disertai dengan diare yang parah, tubuh menjadi kurus dan berakhir dengan kematian. Cacing Paragonimus

Parasit ini bertahan pada di paru-paru babi. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru pada manusia. Cacing ini bisa menyebabkan pendarahan paru-paru kronis, di mana penderita akan merasa sakit, ludah berwarna cokelat seperti karat, karena terjadi pendarahan pada kedua paru-paru. Swine Erysipelas

Parasit ini terdapat di kulit babi. Parasit ini bisa menyebabkan radang kulit pada manusia yang terkena diiringi dengan demam suhu tubuh yang tinggi.

  1. Hukum Xenotransplantation antara Babi dan Manusia

Jika pengobatan medis untuk manusia dengan cara transplantasi mengunakan organ babi, maka hukum yang perlu diterapkan pada fakta ini adalah hukum berobat (al-tadawi/ al-mudaawah) dengan dzat yang najis lagi haram. Sebab babi adalah zat yang najis dan haram. Para ulama berbeda pendapat dalam hal boleh tidaknya berobat dengan suatu dzat yang najis atau yang haram. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid: 1/ 384). Dalam masalah ini ada 3 (tiga) pendapat di antara ‘Ulama:

  1. Mayoritas ulama, mengharamkan berobat dengan zat yang najis atau yang haram, kecuali dalam keadaan darurat. (Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah: 1/ 492, Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu: 9/ 662, Imam Asy-Syaukani, Nailul Authar: 13/ 166).
  2. Sebagian ulama, di antaranya: Imam Abu Hanifah dan sebagian ulama Syafiiyah
    mengatakan boleh berobat dengan zat-zat yang najis. (Izzuddin bin Abdis Salam, Qawa’idul Ahkam fi Mashalih Al-Ahkam: 2/ 6, Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam:6/100).
  3. Sebagian ulama lainnya, seperti Taqiyuddin an-Nabhani, menyatakan makruh hukumnya berobat dengan zat yang najis atau yang haram. (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah: 3/ 116).

Pendapat yang rajih (paling kuat) dalam masalah ini adalah pendapat ketiga, yang mengatakan makruh berobat dengan dzat yang najis atau yang haram, karena faktor-faktor sebagai berikut: Pertama Hadits yang melarang dan hadits yang membolehkan Hadits-hadits yang mengandung larangan untuk berobat dengan sesuatu yang haram/ najis misalnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah yang menurunkan penyakit dan obatnya, dan Dia menjadikan obat bagi setiap penyakit. Maka berobatlah kamu semua, dan janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram” (riwayat Abu Dawud, no: 3376). Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram” menunjukkan larangan berobat dengan sesuatu yang haram/ najis. Hadits ini tidak otomatis mengandung hukum haram, melainkan sekedar larangan, sehingga membutuhkan dalil lain sebagai indikasi larangan yang mengantarkannya apakah larangan ini bersifat jazim (haram), ataukah ghairu jazim (makruh). Di sinilah ada hadits yang menunjukkan larangan itu bersifat ghairu jazim (makruh),

  1. Dalam Shahih Al-Bukhari terdapat riwayat:

“Orang-orang suku ‘Ukl dan ‘Urainah datang ke kota Madinah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu memeluk Islam. Namun mereka kemudian sakit karena tidak cocok dengan cuaca Madinah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk meminum air susu unta dan air kencingnya…” (Shahih Al- Bukhari: no 226, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari: 1/ 367).

  1. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad terdapat riwayat:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi rukhshah (keringanan) kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan Zubair bin Al-‘Awwam untuk mengenakan sutera karena keduanya menderita penyakit kulit” (riwayat Al-Imam Ahmad: no. 13178). Hadits-hadits ini menjadi indikasi bahwa larangan yang ada bukanlah larangan jazim (haram), namun larangan ghairu jazim (makruh). Kedua hadis ini menunjukkan bolehnya berobat dengan sesuatu yang najis (air kencing unta), dan sesuatu yang haram (sutera). Kedua hadits inilah yang kita dijadikan indikasi bahwa larangan berobat dengan sesuatu yang najis/ haram hukumnya bukanlah haram, melainkan makruh. Maka dari itu, hukum pengobatan medis untuk manusia dengan cara transplantasi mengunakan organ babi yang najis lagi haram, hukumnya adalah makruh, bukan haram. Hukum makruh ini berarti lebih baik dan akan berpahala jika seorang yang membutuhkan transplantasi organ tidak menggunakan organ babi. Namun jika dilakukan dia tidak berdosa. Kedua Keadaan Darurat Keadaan darurat adalah keadaan di mana Allah membolehkan seseorang yang terpaksa (kehabisan bekal makanan, dan kehidupannya terancam kematian) untuk memakan apa saja yang didapatinya dari makanan, termasuk makanan yang diharamkan Allah, seperti bangkai, darah, daging babi, dan lain-lain. Pengobatan medis dengan cara transplantasi salah satu organ babi untuk menyelamatkan kehidupan manusia, yang kelangsungan hidupnya tergantung pada organ yang akan dipindahkan kepadanya dibolehkan walaupun dengan benda yang najis/ haram. Dalam hukum syariat, ada kaidah bahwa sesuatu yang darurat itu dapat membolehkan sesuatu yang dilarang, “Ad-Dharuratu tubihul mahdzurat”. Mengenai hukum darurat Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam kea-daaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa atasnya.” (Al-Baqarah: 173) Maka orang yang terpaksa tersebut boleh memakan makanan haram apa saja yang didapatinya, sehingga dia dapat memenuhi kebutuhannya dan mempertahankan hidupnya. Kalau dia tidak mau memakan makanan tersebut lalu mati, berarti dia telah berdosa dan membunuh dirinya sendiri. Padahal Allah ta’ala berfirman : ))(( “Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (An-Nisaa : 29)

5.Penutup

Pengobatan medis dengan cara Xenotransplantation antara babi dan manusia hukumnya sebagaimana pengobatan dengan dzat yang bernajis/ haram yaitu makruh, menurut pendapat yang terkuat. Namun untuk dilakukannya transplantasi organ babi kepada manusia ini ada syarat-syarat yang harus terpenuhi, di antaranya sebagai mana berikut:
Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan pasien jika tidak melakukan transplantasi.ü
Tidak ada organ lain yang bersih/ halal sebagai ganti obat yang bernajis/ haram.ü
Transplantasi organ tidak merusak keutuhan genetik atau identitas psikologis recipient.ü
Transplantasi tersebut memiliki catatan biologis serta medis yang teruji dalam kemungkinan berhasilnya.ü

Transplantasi tidak mendatangkan banyak resiko bagi recipient.ü
Adanya suatu pernyataan dari seorang dokter muslim yang dapat dipercaya, baik pemeriksaannya maupun agamanya (keyakinannya).ü

Karena sangat banyak bahaya yang bisa ditimbulkan oleh daging babi maka dari itulah Allah mengharamkannya, mungkin masih ada bahaya yang belum diketahui oleh manusia. Apabila Allah mengharamkan sesuatu, pasti suatu yang sangat keji dan membahayakan, walaupun terdapat manfaat di dalamnya. Dan di sini Keimanan harus dipupuk terus sehingga tidak ada keraguan untuk segala perintah dan larangan yang datang dari Allah subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Biografi Penulis Nurman bin Abdulbakri, Lc. Menamatkan SLTA pada MAKN Koto Baru Padang Panjang, Sumatera Barat. Menamatkan S1 pada Al-Azhar University Egypt Fakultas Syari’ah Islamiyah. Mendapatkan Academic Awards 2008 – MASISIR OF THE YEAR Mahasiswa Indonesia Terbaik, dan dua kali meraih predikat Mumtaz. Aktif mengisi beberapa materi tentang motifasi belajar, bidang syariah, Bahasa Arab dan lainnya di beberapa organisasi kekeluargaan Mahasiswa Al-Azhar di Cairo. Saat sekarang penulis sedang menjalani studi S2 di Al-Azhar University Egypt.
Email penulis: nurman9@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: