BIDADARI PENGHUNI SURGA


oleh: Khoirunnisa susiana

Abu Nuaim meriwayatkan dari Abdullah bin Abu Aufa RA, bahwa Nabi SAW bersabda, “ setiap penghuni surge akan dinikahkan dengan empat ribu gadis perawan, delapan ribu wanita janda dan seratus bidadari. Kesemuanya akan berkumpul setiap minggunya dan berkata dengan suara merdu yang belum pernah didengar oleh manusia sejenisnya. Mereka kemudian akan berkata, “kami kekal dan tidak akan binasa, kami lembut dan tidak akan pernah kasar, kami rela dan tidak akan pernah murka, kami menetap dan tidak akan pernah pergi. Berbahagialah seseorang yang kami menjadi miliknya dan dia menjadi milik kami.”(Al Hadits)

Citra Kelembutan

Fenomena bidadari telah dan masi akan terus menjadi objek pembicaraan yang hangat untuk dibicarakan. Bukan tabu atau tertutp untuk didiskusikan, karena keberadaan bidadari  dalam islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari janji-janji Allah SWT akan akhirat yang bukan sekedar mitos belaka.Bidadari merupakan salah satu anugerah Allah kepada seorang lelaki yang memasuki surga. Bagi seorang wanita yang sholihah dia adalah bidadari bagi suaminya, dan isteri sholihah merupakan ketua semua bidadari. Bidadari mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Ada sekelompok dari mereka yang lebih mulia, cantik dan sempurna dari yang lainnya. Dan para wali Allah akan mendapatkan mereka sesuai dengan amal kepatuhannya kepada Allah SWT.

Pada tingkatan pertama, para terdahulu yang dekat kepada Allah SWT (Al-muqorrabuun As-Sabiquun) akan dikaruniai bidadari yang lebih cantik dan tinggi kedudukannya dari pada bidadari Ashhabul Yamin (orang-orang yang telah berpegang kepada janji Allah SWT dan memiliki peluang khusus untuk masuk surga. Bidadari tersebut adalah bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia manapun. Artinya, bahwa pandangan bidadari ini hanya akan tertuju kepada suami-suami mereka saja. Merka laksana permata yakut dan marjan, di dalam kejernihan, kecantikan  dan cahaya.

Tingkatan selajutnya diisi oleh bidadari para Ashhabul Yamin. Gambaran bidadari ini adalah baik dan cantik. Artinya, mereka cantik secara moral dan wawasan, luar dan dalam. Bidadari tingkat kedua harus dipingit (dijemput dan ditundukkan) dari rumah, sedangkan bidadari tingkatan pertama sudah tersiapkan dan menundukkan dirinya sendiri.

Seperti apakah bidadari penghuni surga itu?, dia adalah seorang wanita yang hanya akan mempersembahkan dirinya untuk suaminya, dan tidak akan berambisi kepada seseorang selain suaminya. Dan suami juga akan mempersembahkan segala curahan hanya kepadanya, dalam segala harapan dan hasratnya. Jika sang suami melihatnya, dia sangat menyenangkan. Jika sang suami memerintahnya, dia mematuhinya.

Setiap kali sang suami melihatnya, dia kerap mengisi hati sang suami dengan kebahagiaan. Acapkali berbicara dengan suaminya, dia selalu mengisi telinga sang suami dengan kilau ucapan yang baik. Dan ketika dia datang, singgasana dan kamar serasa terisi dengan kilauan cahaya. Ketika dia memberikan saran kepada suaminya, betapa bagusnya saran tersebut. Dan ketika dia merentang suaminya, betapa enak pelukan dan rentangannya tersebut. Andai dia bernyanyi, akan terasa betapa indah penampilan dan suaranya. Andai dia memberikan kecupan, maka tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada kecupannya.

Bagi wanita yang mengidamkan surga, hendaknya dia banyak berpuasa, banyak bangun malam, beribadah, taat, mukmin, bertaubat, bersyukur, bersabar, patuh kepada tuhannya, tunduk kepada suaminya, mendidik dan mengajari anak-anaknya, membimbing saudara-saudara  perempuannya, memberikan nasihat kepada sesamanya, menjaga hak tetangga, berbuat baik kepada ayahnya, menyayangi ibunya, mengoreksi dirinya, menjaga hatinya, hati yang bergantung pada langit dan ruhnya yang bersemayam disurga.

Bagi wanita yang mendambakan surga, hendaknya dia mengetahui tentang batas waktu malamnya (di saat orang lain sedang terlelap tidur), waktu siangnya (di saat orang lain sedang beraktivitas dengan giat), sedihnya (di asaat orang lain bahagia), tangisnya (di saat orang lain tertawa), diamnya (di saat orang lain sedang membaur), kekhusyuaanya (di saat orang lain sedang berlaku congkak).

Dan wanita yang mendambakan surga, hendaknya dia menangis, sedih, kasih saying, dan sedikit bicara. Artinya, wanita semacam ini tidak layak bginya sikap kasar, lalai, histeria, pemarah, pengganggu, banyak berbuat kekejian, egois, banyak mengungkit kebaikan dan bersuara keras. Dan bagi wanita yang menginginkan surga, hendaknya hatinya bergantung pada tuhannya, amat sangat mencintai tuhannya dan berkata seperti tuturan wanita yang sholihah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: