Metodologi Ijtihad


METODOLOGI IJTIHAD UNTUK MENGENALI HUKUM SETIAP WAQI`AH/ NAZILAH KONTEMPORER
Disarikan oleh: Alnofiandri Dinar, Lc.

Landasan Utama

Agar pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang bahits dalam mengkaji sebuah permasalahan kontemporer memiliki sandaran syar`i dan memiliki metodologi yang jelas, serta bisa dipertanggungjawabkan, maka seorang pengkaji syariat (bahits) perlu memakai metodologi, sebagai berikut;

A. Marhalah tashwir sebuah permasalahan (mengetahui dengan seksama sebuah permasalahan yang dihadapi)
Marhalah ini meliputi langkah-langah:
1. Mengetahui dengan jelas definisi sebuah permasalahan yang sedang dibahas.
Mengetahui definisi dengan jelas bertujuan agar seorang bahits mengetahui dengan jelas permasalahan yang akan dibahasnya. Mengetahui definisi ini dimulai dari pemahaman terhadap mufradat yang menjadi bagian dari definisi
i. Mengetahui definisi mufradat secara etimologi, melihat kepada akar bahasa arab fushah. Untuk melihat akar bahasa mesti merujuk kepada kitab-kitab ma`ajim yang mu`tamad, sept: lisan al arab, taj al `arus, muktar al shahah, misbah al munir, dll. contoh: Mengetahui makna kalimat shalat secara bahasa arab : do`aii. Mengetahui definisi dari mufradat secara etimologi
1. Mengatahui makna mufradat yang dipakai secara syar`i dan dalam suatu disiplin ilmu. Contoh mengetahui makna kalimat shalat yang diartikan dengan: “perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam”.
2. Mengetahui mufradat dan istilah yang sudah umum dipakai oleh para ulama, pemikir, cendikiawan, dll.

Contoh: kalimat faidat al bunuuk
Seorang bahits mesti mengenal dulu makna faidah dan bunuuk secara akar bahasa arab, kemudian mengenali makna faidah yang dimaksudkan oleh para ekonom.

b. Mengetahui definisi mufradat ketika sudah menjadi susunan kalimat (tarkib)
i. Boleh jadi bentuknya adalah Tarkib idhafi (mudhaf + mudhaf ilaih), gabungan dua isim.
ii. Atau bentuknya Tarkib washfiy (sebagai penjelas)
Contoh: kalimat faidat al bunuuk merupaka bentuk mudhaf-mudhaf ilaih, maka si bahits mesti mengetahui makna dari susunan kalimat yang terdiri dari mudhaf dan mudhaf ilaih ini, sebagai satu kesatuan istilah yang sudah dikenal oleh para ilmuwan.

Seorang bahits juga mesti menyelesaikan permasalahan kebahasaan yang akan menyulut perbedaan pendapat yang meliputi permasalahan haqiqah, majaz, isytirak, taraduf dan pelbagai permasalahan kebahasaan lainya.

Apabila seorang bahits ingin membuat Ta`rif (definisi) sebuah permasalahan maka, ia mesti membuat sebuah definisi dengan memenuhi kriteria berikut:
1. Membuat definisi secara tashawwur sebuah disiplin ilmu (ex; definisi menurut ilmu kedokteran)
2. Membuat definisi tashawwur secara fiqh.
3. Menambahkan kriteria yang bersifat mencakupi semua unsur yang menjadi objek bahasan.
4. Menambahkan kriteria yang bersifat mencegah masuknya semua unsur yang bukan menjadi objek bahasan.
5. Membuang bagian pengulangan, tambahan, bagian tidak penting dari sebuah definisi.
6. Menjadikan lafaz akhir -yang telah disusun yang memberikan sebuah pengertian yang jelas dan menampakkan balaghah- sebagai sebuah definisi.
Syarat dari sebuah ta`rif adalah mesti memenuhi kriteria yang jami` dan mani`. Mencakup semua unsur permasalahan yang didefinisikan dan tidak bercampur dengan permasalahan lain yang bukan bagian dari permasalahan yang didefinisikan.
Untuk mengetahui definisi lebih lengkap, silahkan rujuk kembali di dalam kitab-kitab mantiq dan kitab adab al bahts wa al munazharah.

2. Mengetahui dengan jelas bentuk riil dari sebuah permasalahan.
a. Mengetahui bentuk permasalahan secara disiplin sebuah keilmuan
i. Merujuk kepada referensi ilmiah.
ii. Merujuk kepada referensi studi research yang sudah ada
b. Mengetahui secara teori (dalam logika, khayalan, perenungan, pengandaian, dll) sebuah permasalahan dengan memperhatikan kaidah `aqliyyah (wajib, mungkin dan mustahil).

3. Mengidentifikasi dan membedakan istilah yang ada kemiripan, jikalau ada.
a. Mengetahui unsur kesamaan istilah yang dilihat dari seluruh sisi.
b. Mengetahui unsur perbedaan yang dilihat dari seluruh sisi.

4. Mengetahui motivasi/faktor pendorong pentingnya untuk membahas sebuah permasalahan, dilihat dri sisi;
a. Inisiatif pribadi
b. Kepentingan secara ilmiah
c. Sosial kemasyarakatan
d. Politik
e. Ekonomi, dll.
Mengetahui hal diatas bertujuan agar segala usaha yang dikorbankan oleh si bahits tidak hanya sia-sia dan hanya membuang-buang waktu dan finansial.

B. Memasuki marhalah takyiif al fiqhy (melihat dari kaca mata fiqh)
5. Mengindetifikasi sumber perdebatan dalam sebuah permasalahan.
a. Mengetahui sisi–sisi yang disepakati oleh pelbagai kelompok yang memiliki pandangan terhadap permasalahan.
b. Mengetahui sisi–sisi yang diperselisihkan oleh pelbagai kelompok yang memiliki pandangan terhadap permasalahan.
c. Mengetahui permulaan munculnya sebuah perbedaan pandangan.

6. Mengetahui penyebab perbedaan pendapat (perdebatan) dalam sebuah permasalahan dan menjelaskan sebab perbedaan.
a. Hukum asal dari sebuah perbuatan adalah boleh.
b. Hukum asalah dari sebuah permasalahan adalah haram.
c. Tidak ada faktor dan dalil yang menyebabkan suatu perbuatan dilarang.

7. Memprediksi kemungkinan persepsi (pandangan pelbagai mazhab) secara fiqh.
Dari sebab khilaf akan diketahui kecendrungan pendapat masing-masing mazhab

8. Mengemukakan dalil masing-masing mazhab
Dalam memaparkan dalil, perlu diurutkan dalil berdasarkan urutan kekuatan dali dalam ilmu ushul fiqh;
a. Dalil yang disepakati oelh para fuqaha;
i. Al Qur`an
ii. Sunnah
iii. Ijma` (jikalau ada ijma` yang mirip dengan permasalahan yang sedang dibahas)
iv. Qiyas (kecuali Ibnu Hazm)
b. Dalil yang masih menjadi perbedaan di kalangan fuqaha;
i. Masalih mursalah
ii. Sadd al zara`i`
iii. Al istihsan, dll
c. Melihat Hikmah disyariatkannya sebuah bentuk permasalahan (maqashid)
d. Qawaid fiqhiyyah kubra
e. Qawaid fiqhiyyah sughra
f. dll

9. Munaqasyah dalil-dalil yang ada
Dalil yang dikemukan oleh masing-masing kelompok dimunaqasyahkan dengan amanah ilmiah, bersikap objektif, jujur, tawadhu`, tanpa bermaksud sombong dan mempropaganda/medoktrin orang lain kepada suatu pendapat tertentu.

10. Mengutamakan upaya jam`u al adillah daripada tarjih.
Bahits berupaya mengumpulkan seluruh dalil yang ada dan mencari korelasi semua dalil, karena i`mal al dalil aula min ihmalih (mengamalkan seluruh dalil yang ada, lebih baik daripada mengabaikan sama sekali atau sebagian dalil) dan al khuruj min al khilaf mustahab (berupaya untuk keluar dari khilaf sangat dianjurkan). Ketika metode al jam`u tidak mungkin dilakukan, maka bahits menggunakan metode tarjih berdasarkan kaidah ta`arudl wa al tarjih yang dijelaskan secara detail di dalam kitab-kitab usul fiqh.

11. Menjelaskan pendapat yang rajih ( lebih kuat) atau mukhtar (yang dipilih) menurut persepsi bahits.
Setelah mengkaji semua dalil yang dikemukan seorang bahits kemudian menetapkan pendapat yang rajih atau mukhtar menurutnya. Selain menjelaskan pendapat yang rajih atau mukhtar menurut bahits, kepada bahits juga diharuskan untuk menjelaskan sebab tarjih atau sebab ikhtiyar (pemilihan) pendapat bahits.

C. Memasuki marhalah menghukumi sebuah permasalahan.
12. Menghukumi secara syar`i
Setelah mengkaji sebuah permasalahan secara komprehensif, setelah mengkaji semua dalil, memunaqasyahkan dan mentarjih pendapat yang lebih kuat dalam persepsi si bahits, maka si bahits bisa menghukumi permasalahan secara syar`i, menurut persepsi bahits.

D. Memasuki marhalah berfatwa.
13. Berfatwa
Jika masalah ini merupakan permasalahan yang bersumber dari permintaan fatwa/pertanyaan, maka si bahits sudah bisa berfatwa kepada si penanya dengan memperhatikan adab fatwa.

Metodologi ini diadopsi dari muhadarah-muhadarah yang disampaikan selama satu tahun pelatihan materi qahaya fiqhiyyah mu`ashirah, oleh DR. Sa`duddin Mus`ad Hilaly, pada kegiatan Pelatihan Fatwa yang diselenggarakan oleh Lembaga Fatwa Mesir. (2007-2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: